Sabtu, 16 Juli 2011
Rabu, 15 Juni 2011
Shalat Gerhana Matahari dan Bulan

Salah satu shalat sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah saw adalah shalat gerhana, baik gerhana matahari maupun gerhana bulan. Hal ini dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mengagungkan- Nya.
Aisyah radhiyallahu ’anha berkata, ketika Rasulullah saw masih hidup, pernah terjadi gerhana matahari. Rasulullah saw pun keluar menuju masjid. Beliau berdiri dan bertakbir. Mendengar itu, para sahabat pun berdatangan dan berbaris di belakang beliau. Beliau membaca surah yang panjang kemudian bertakbir. Lalu beliau ruku’ cukup lama, namun waktunya kurang dari waktu bacaan pertama. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan membaca, ”Sami’allaahu lima hamidah, Rabbana walakal hamdu (Allah Maha mendengar orang yang memuji-Nya).” Kemudian beliau berdiri lagi dan membaca surah yang panjang, tapi bacaannya lebih pendek dari bacaan pertama. Kemudian beliau saw takbir dan ruku’ yang lamanya lebih pendek dari ruku’ yang pertama. Kemudian beliau mengucapkan ”Sami’allahu liman hamidah, Rabbana walakal hamdu”, kemudian sujud.
Pada rakaat berikutnya, beliau melakukan seperti itu hingga sempurna dengan empat kali
ruku dan empat kali sujud. Setelah itu, matahari tampak sebelum beliau pergi. Selanjutnya, beliau saw berdiri dan menyampaikan khutbah kepada jamaah. Setelah memuji Allah dengan puji-pujian yang layak bagi-Nya, beliau bersabda, ”Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari atau bulan bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Jika kalian melihat keduanya (matahari dan bulan mengalami gerhana), maka bersegeralah kalian mengerjakan shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
I. Hukum:
Sunnah Muakkadah, berdasarkan kesepakatan (ijma’) para ulama.
II. Dalil (Landasan Hukum):
Sunnah Rasulullah saw (Hadits):
1. ”Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah swt. Terjadinya gerhana matahari atau bulan bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Jika kalian melihat keduanya (gerhana matahari dan bulan), maka bersegeralah kalian mengerjakan shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Aisyah radhiyallahu ’Anha).
2. ”Apabila kalian melihat sedikit dari tanda-tanda Allah SWT tersebut (gerhana matahari dan gerhana bulan), maka segeralah berzikir, berdo’a kepada-Nya, dan memohon ampunan-Nya.” (HR. Bukhari, dari Abu Musa Al-Asy’ariy radhiyallahu ’anhu).
3. ”Jika kalian melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka lakukanlah shalat hingga terang.” (HR. Muslim)
III. Sifat:
1. Pada dasarnya, shalat gerhana (matahari dan bulan) tidak jauh berbeda dari shalat lainnya, lebih mirip dengan shalat subuh, hanya saja dalam shalat gerhana disyariatkan dua kali ruku’ dalam satu raka’at.
2. Shalat gerhana disunnahkan dilakukan secara berjamaah sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw bersama sahabat-sahabatnya.
3. Shalat gerhana dilakukan dengan bacaan yang keras (suara jahr)
IV. Cara Pelaksanaan:1. Pada rakaat pertama, membaca surah Al-Fatihah dan surah yang panjang, seperti surah al-Baqarah atau yang lainnya.
2. Kemudian ruku’ dalam waktu yang lama, lalu bangkit dari ruku’ dengan mengangkat
kepala seraya membaca ”Sami’allahu liman hamidah, Rabbana walakal hamdu (Allah Maha mendengar siapa yang memuji-Nya. Ya Tuhan kami, bagimulah segala pujian)”.
3. Setelah berdiri, membaca surah yang panjang (lebih pendek dari sebelumnya), seperti
surah Ali Imran atau selainnya.
4. Kemudian ruku’ lagi (untuk kedua kalinya), dengan ruku’ yang lebih pendek dari sebelumnya. Lalu bangkit dari ruku’ dan membaca ”Sami’allahu liman hamidah, Rabbana walakal hamdu (Allah Maha mendengar siapa yang memuji-Nya. Ya Tuhan kami, bagimulah segala pujian)”.
5. Kemudian bersujud sebanyak dua kali, dengan sujud yang lama.
6. Duduk di antara dua sujud tidak lama.
7. Pada rakaat kedua, hal-hal yang dilakukan tidak berbeda dengan rakaat pertama;bacaan, ruku’ dan sujud yang lama.
8. Setelah itu, duduk tasyahhud lalu salam.
Perhatian:
- Apabila shalat gerhana selesai sebelum gerhana berakhir, maka para jamaah melanjutkan dengan zikir, doa dan istigfar, hingga gerhana berakhir.
- Apabila gerhana telah berakhir ketika orang-orang masih shalat, maka shalat tetap dilanjutkan hingga selesai dan tidak dihentikan, namun dikerjakan lebih cepat.
- Jika diketahui bahwa gerhana tidak akan berlangsung lama, maka pilihlah surah-surah—
yang dibaca setelah Al-Fatihah—yang sesuai (menurut Jumhur ulama).
V. Waktu Pelaksanaan: 1. Sejak mulai terjadinya gerhana hingga selesai. Rasulullah saw bersabda, ”Jika kalian
melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka lakukanlah shalat hingga terang.” (HR. Muslim);
2. Apabila gerhana berakhir sebelum melaksanakan shalat gerhana, maka tidak perlu
mengqadha’nya.
VI. Amalan saat Gerhana:
Selain melaksanakan shalat gerhana, dianjurkan pula;
- Memperbanyak zikir dan do’a
- Memperbanyak istigfar (permohonan ampun),
- Memperbanyak sedekah,
- Memperbanyak perbuatan-perbuatan baik lainnya
*) Referensi:
- Al-Mulakhkhash Al-Fiqhiy (Fikih Sehari-Hari) oleh DR. Saleh Al-Fauzan;
- Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah oleh Syaikh Abdul ’Azhim bin Badri Al-Khalafiy.
- Fiqh As-Sunnah oleh Syaikh Sayyid Sabiq
Sabtu, 11 Juni 2011
NASAB SILSILAH KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW
Dibanding bangsa lain seperti mesir yang peradabannya sudah mengenal baca tulis, kelebihan bangsa arab adalah hapalan yang kuat mengenai berbagai syair dan silsilah keturunan nenek moyang mereka. Mereka dapat menghapal ribuan syair dan silsilah keturunan mereka puluhan generasi diatasnya. Itulah mungkin mengapa Allah mengutus nabi Muhammad SAW yang umi atau tidak bisa baca tulis.
Dibawah akan saya perlihatkan silsilah keturunan nabi Muhammad rasulullah SAW berturut turut hingga sampai ke nabi adam
MUHAMMAD SAW bin ABDULLAH bin ABDUL MUTHALIB (alias SYAIBAH) bin HASYIM (alias AMRU) bin ABDU MANAF (alias AL MUGHIRAH) bin QUSHAY (alias ZAID) bin KILAB bin MURAH bin KA'B bin LU'AY bin GHALIB bin FIHR ( julukannya QURAISY dan jadi cikal bakal nama kabilah QURAIS) bin MALIK bin AN-NADHR (alias QAIS) bin KINANAH bin KHUZAIMAH bin MUDRIKAH (AMIR) bin ILYAS bin MUDHAR bin NIZAR bin MA'AD bin ADNAN
(Nasab diatas disepakati kebenarannya oleh pakar biografi dan ulama )
ADNAN bin UDAD bin HAMAISA' bin SALAMAN bin AUSH bin BAUZ bin QIMWAL bin UBAY bin AWAM bin NASYID bin HAZA bin BALDAS bin YADLAF bin THABIKH bin JAHIM bin NAHISY bin MAKHI bin AIDH bin ABQAR bin UBAID bin AD-DA'A bin HAMDAN bin SINBAR bin YATSRIBI bin YAHZAN bin YALHAN bin AR'AWY bin AID bin DAISYAN bin AISHAR bin AFNAD bin AIHAM bin MUQSHIR bin NAHITS bin ZARIH bin SUMAY bin MUZAY bin IWADHAH bin ARAM bin QAIDAR bin ISMA'IL as bin IBRAHIM as
(masih jadi perselisihan walau sebagian besar mereka menyepakatinya)
IBRAHIM as bin TARIH (AZAR) bin NAHUR bin SARU' ATAU SARUGH bin RA'U bin FALAKH bin AIBAR bin SYALAKH bin ARFAKHSYAD bin SAM bin NUH alaihis alam bin LAMK bin MATAUSYALAKH bin AKHNUKH atau IDRIS alaihisalam bin YARD bin MAHLA'IL bin QAINAN bin YANISYA bin SYAITS bin ADAM alaihi salam
(disepakati didalamnya ada data yang tidak benar)
Nabi ibrahim sendiri hidup sekitar tahun 1800 sebelum masehi...
Nabi muhammad SAW lahir hari senin tanggal 20 atau 22 april 571 Masehi atau tanggal 9 rabi'ul awal (4 bulan setelah peristiwa abrahah dan pasukan gajah berusaha menguasai mekah namun digagalkan Allah)
Nabi diangkat menjadi rasul bulan ramadhan malam tanggal 21, atau 10 agustus 610 Masehi saat beliau berumur 40 tahun 6 bulan 12hari menurut kalender hijriah atau berusia 39 tahun 3 bulan 20 hari menurut kalender Masehi
Nabi hijrah ke madinah hari jumat, 12 rabi'ul awal atau 27 september 622 atau 14 tahun kenabiannya
wafat hari senin 12 rabi'ul awal 11 Hijriah dalam usia 63 tahun 4 hari
Dibawah akan saya perlihatkan silsilah keturunan nabi Muhammad rasulullah SAW berturut turut hingga sampai ke nabi adam
MUHAMMAD SAW bin ABDULLAH bin ABDUL MUTHALIB (alias SYAIBAH) bin HASYIM (alias AMRU) bin ABDU MANAF (alias AL MUGHIRAH) bin QUSHAY (alias ZAID) bin KILAB bin MURAH bin KA'B bin LU'AY bin GHALIB bin FIHR ( julukannya QURAISY dan jadi cikal bakal nama kabilah QURAIS) bin MALIK bin AN-NADHR (alias QAIS) bin KINANAH bin KHUZAIMAH bin MUDRIKAH (AMIR) bin ILYAS bin MUDHAR bin NIZAR bin MA'AD bin ADNAN
(Nasab diatas disepakati kebenarannya oleh pakar biografi dan ulama )
ADNAN bin UDAD bin HAMAISA' bin SALAMAN bin AUSH bin BAUZ bin QIMWAL bin UBAY bin AWAM bin NASYID bin HAZA bin BALDAS bin YADLAF bin THABIKH bin JAHIM bin NAHISY bin MAKHI bin AIDH bin ABQAR bin UBAID bin AD-DA'A bin HAMDAN bin SINBAR bin YATSRIBI bin YAHZAN bin YALHAN bin AR'AWY bin AID bin DAISYAN bin AISHAR bin AFNAD bin AIHAM bin MUQSHIR bin NAHITS bin ZARIH bin SUMAY bin MUZAY bin IWADHAH bin ARAM bin QAIDAR bin ISMA'IL as bin IBRAHIM as
(masih jadi perselisihan walau sebagian besar mereka menyepakatinya)
IBRAHIM as bin TARIH (AZAR) bin NAHUR bin SARU' ATAU SARUGH bin RA'U bin FALAKH bin AIBAR bin SYALAKH bin ARFAKHSYAD bin SAM bin NUH alaihis alam bin LAMK bin MATAUSYALAKH bin AKHNUKH atau IDRIS alaihisalam bin YARD bin MAHLA'IL bin QAINAN bin YANISYA bin SYAITS bin ADAM alaihi salam
(disepakati didalamnya ada data yang tidak benar)
Nabi ibrahim sendiri hidup sekitar tahun 1800 sebelum masehi...
Nabi muhammad SAW lahir hari senin tanggal 20 atau 22 april 571 Masehi atau tanggal 9 rabi'ul awal (4 bulan setelah peristiwa abrahah dan pasukan gajah berusaha menguasai mekah namun digagalkan Allah)
Nabi diangkat menjadi rasul bulan ramadhan malam tanggal 21, atau 10 agustus 610 Masehi saat beliau berumur 40 tahun 6 bulan 12hari menurut kalender hijriah atau berusia 39 tahun 3 bulan 20 hari menurut kalender Masehi
Nabi hijrah ke madinah hari jumat, 12 rabi'ul awal atau 27 september 622 atau 14 tahun kenabiannya
wafat hari senin 12 rabi'ul awal 11 Hijriah dalam usia 63 tahun 4 hari
Selasa, 24 Mei 2011
Doa sujud tilawah
اللَّهُمَّ اكْتُبْ لِي بِهَا عِنْدَكَ أَجْرًا , وَضَعْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا , وَاجْعَلْهَا لِي عِنْدَكَ ذُخْرًا , وَتَقَبَّلْهَا مِنِّي كَمَا تَقَبَّلْتَهَا مِنْ عَبْدِكَ دَاوُدَ
Sudahkah Engkau Mengenal Tuhan-mu?
Oleh Al-Ustadz Armen Halim Naro, Lc. Rahimahullahu Ta’ala*)
Manusia dalam perjalanannya sebagai hamba Allah harus memiliki dua kekuatan, yaitu kekuatan ilmu dan kekuatan amal. Seperti orang yang sedang berjalan dengan kendaraannya pada kegelapan malam, maka ilmu sebagai lentera dan rambu yang akan menerangi jalan menuju tujuannya. Semakin dalam ilmunya, semakin terang pula jalan yang akan ia lalui. Sebaliknya, semakin jauh ia dari ilmu semakin gelap juga jalan kebenaran baginya. Sedangkan amal adalah motor yang mengerakkannya ke depan.
Semulia-mulia ilmu adalah ilmu mengenal Allah yaitu ilmu tentang tauhid kepada Allah, karena mulia atau tidaknya suatu ilmu sesuai dengan sesuatu yang hendak diketahui. Jika hal yang berkaitan dengan mencuri maka kehinaan ilmu itu sesuai pula dengan pekerjaan itu, begitu juga dengan ilmu dunia maka kemuliaannya sesuai pula dengan kedudukan dunia itu sendiri.
Dalam ilmu dien (agama), kemuliaan fiqih karena dengannya diketahui hukum-hukum syari’at, kemudian ilmu hadits disebabkan dengannya diketahui segala perilaku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan ilmu tauhid dengannya kita dapat mengenal Allah. Adakah yang lebih besar dari mengenal Allah?! Adakah yang lebih besar persaksian dan bukti melainkan bukti dna persaksian tentang Allah?! Allah berfirman yang artinya:
“Katakannlah: ‘Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?’ Katakanlah: ‘Allah’…” (QS. Al-An’am: 19)
Adapun mengenal Allah ialah dalam tiga hal, yaitu: mengenal Allah delam rububiyyah-Nya, mengenal Allah dalam uluhiyyah-Nya, dan mengenal Allah dalam nama dan sifat-Nya. Dan itulah tiga tauhid yang wajib diketahui oleh setiap muslim.
Tauhid Rububiyyah
Tauhid rububiyyah ialah mentauhidkan dan mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya. Maka tidak ada pencipta, pemberi rezeki, pemberi manfaat dan mudharat, pengasih dan penyayang, kecuali Allah. Dialah satu-satunya Pencipta alam, Pengatur alam semesta, Dia yang mengangkat dan menurunkan, Maha Kuasa atas segala sesuatu yang menggantikan siang dan malam. Semua merupakan perbuatan Allah.
“Katakannlah: ‘Wahai Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dna Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau mesukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)’.” (QS. Ali Imran: 26-27)
Ketika seorang hamba meyakini ada yang mencipta atau memberi rezeki selain dari Allah, berarti ia telah berbuat syirik. Perhatikan firman Allah Ta’ala dalam hal ini yang artinya:
“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah…” (QS. Luqman:11)
“Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya?…” (QS. Al-Mulk: 21)
Pengenalan seorang hamba kepada tauhid rububiyyah ini merupakan fithrah yang telah digoreskan ke dalam sanubarinya. Bahkan sampai pada hewan dan binatang, tidak ada yang menyangkalnya.
“Berkata rasul-rasul mereka: ‘Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?’…” (QS. Ibrahim: 10)
Sampai Fir’aun sekalipun memiliki fithrah ini.
“Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata’…” (QS. Al-Isra’: 102)
Oleh karena itu, keyakinan terhadap tauhid rububiyyah belum memasukkan seseorang ke dalam Islam. Bukan demi hal itu (tauhid rububiyyah, -red) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerangi Abu lahab dan Abu Jahal beserta kaum Quraisy. Bukan hal itu pula yang membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terusir dari Makkah, dilempari batu, luka wajahnya?! Poros pertikaian dan inti perselisihan antara para nabi dengan umatnya adalah dalam tauhid kedua yaitu tauhid uluhiyyah.
Tauhid Uluhiyyah
Tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan hamba kepada Allah dengan niat mendekatkan diri kepada-Nya. Sekiranya Allah yang mencipta, yang memberi, mengapa yang disembah justru sesuatu yang lainnya?! Sekiranya Allah yang memberi manfaat dan mudharat mengapa harus berharap, takut dan cemas kepada selain-Nya?! Sikap dan perbuatan seperti itu benar-benar tidak adil…sebuah kedzaliman yang nyata. Itulah syirik.
Zaid bin Amr bin Nufail, salah seorang penganut ajaran hanif di Makkah, menomentari sembelihan Quraisy: “Ini kambing, Allah yang menciptakan, Dia pula yang menueunkan hujan dan menumbuhkan rumputnya, lalu kalian menyembelihnya untuk selain nama Allah?!!” (HR. Bukhari: 3540)
Itulah cara berpikir orang-orang musyrik, tidak memposisikan Allah sesuai dengan kadar dan keagungan-Nya. Celakalah mereka!! Ke mana akal yang telah dianugerahkan oleh Sang Pencipta?! Di mana fithrah yang suci yang ada dalam dada?!! Mereka berkata:
“Mengapa ia menjadikan Ilah (Dzat yang diibadahi) hanya satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang mengherankan.” (QS Shad: 5)
Mereka merasa aneh ketika para nabi memerintahkan untuk mentauhidkan Allah dalam perbuatan mereka kepada Allah, bahwa tidak ada do’a, puasa, sujud, dan nadzar kecuali kepada Allah. Tidak ada yang ditakuti, diharapkan, dan dicintai kecuali hanya Allah! Tidak ada khusyu’, tawakkal, merendah diri kecuali hanya kepada Allah!
Tauhid Uluhiyyah Inti Dakwah Para Rasul
Tauhid uluhiyyah disebut juga tauhid ibadah, karena mengesakan Allah dalam ibadah seorang hamba. Tauhid uluhiyyah adalah inti dakwah para rasul, semenjak nabi Nuh hingga nabi akhir zaman. Dan ia jalan dan metode dakwah setiap penyeru kebenaran pada setiap tenpat dan zaman. Allah berfirman yang artinya:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah taghut itu’…” (QS. An-Nahl: 36)
Dalam tauhid inilah berkecamuk peperangan antara para nabi dengan kaumnya, sehingga mereka menjadi dua kelompok yang saling bertikai, satu kelompok Allah dan satu kelompok setan. Karena tidak mengertinya manusia tentang hakikat penciptaan. Allah berfirman yang artinya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Berkata Syaikhul Islam: “Ketahuilah bahwa kefakiran seorang hamba kepada Allah agar ia mengibadahi-Nya dan tidak menyekutui-Nya dengan apapun. Tidak ada percontohan dario kebutuhan tersebut sehingga ia dapat dikiaskan. Akan tetapi dapatlah diserupakan dalam beberapa segi dengan kebutuhan seseorang dengan makan dan minum. Sekalipun antara keduanya terdapat perbedaan yang besar. Karena hakikat seorang hamba adalah hati dan ruhnya dan ia tidak akan baik hidupnya kecuali dengan Ilah-nya yaitu Allah yang tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah. Maka, tidak ada ketenangan di dunia kecuali berdzikir kepada-Nya. Ia berletih berpeluh dan akan bertemu dengan-Nya dan tidak ada kebaikan bagi dirinya kecuali harus bertemu dengan-Nya. Sekiranya seorang hamba memperoleh kelezatan dan kebahagiaan selain Allah, niscaya iatidak kekal, karena ia akan berpindah-pindah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, dari individu kepada individu yang lain. Dalam satu waktu ia bisa merasa nikmat dengannya akan tetapi pada waktu yang lain ia tidak akan merasakan nikmatnya, bahkan kadang-kadang menyusahkan dirinya akibat hubungannya dengan sesuatu tersebut atau keberasaan sesuatu tersebut di sisinya. Adapun Ilah-nya maka ia sangat membutuhkan-Nya pada setiap keadaan dan waktu.” (Lihat Majmu’ Fatawa 1/24)
Tauhid Asma’ dan Sifat
Yaitu beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah, sebagaimana yang diterngkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, tanpa takwil, ta’thil (menghilangkan makna atau sifat Allah), takyif (bertanya tentang hakikat dna sifat-Nya dengan kata: “Bagamana”), dna tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Allah berfirman yang artinya:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dialah Ynag Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
Dengan mengetahui nama dan sifat Allah, seorang hamba dapat bermu’amalah dengan Allah dalam ibadahnya. Dan tidak akan sempurnya seseorang dalam mengenal Allah kecuali ia harus menganut madzhab Ahlus Sunnah dalam aqidah terutama tentang asma’ wa shifat, yang mana sebagai tempat yang sering menggelincirkan kelompok-kolompok di luar Ahlus Sunnah.
Bagaimana ia beribdah dengan baik, sekiranya ia berkeyakinan seperti keyakinan kelompok Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Allah tidak di luar dan tidak di dalam dan seterusnya, mereka samakan Allah dengan sesuatu yang tidak ada.
Bagaimana ia beribadah dengan baik sekiranya ia mengatakan Allah tidak bersemayam di atas ‘arsy akan tetapi maksudnyamenguasai ‘arsy. Sehingga dengan demikian ia menyatakan bahwa ‘arsy dahulu dikuasai oleh sesuatu lalu baru dikuasai oleh Allah. Kita berlindung dari apa yang mereka sifati!!
Sedangkan Ahlus Sunnah meyakini dalam masalah nama dan sifat Allah yaitu meyakini dna menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya dari nama dan sifat-sifat-Nya dengan tidak mentakwilnya dan mentakyif atau mentamtsilnya.
Berkata Imam Ahmad rahimahullah: “Tidaklah seseorang menyifati Allah kecuali dengan apa yang disifati oleh-Nya untuk diri-Nya atau apa yang disifati Rasul-Nya serta tidak boleh melanggar al-Qur’an dna hadits.” (Lihat Kitab Tauhid 1/98 edisi terjemah penerbit Darul Haq)
Semoga Allah menunjukkan kita ke jalan yang lurus. Amin.
[Disalin dari tulisan Ustadz Armen Halim Naro, Lc. Rahimahullah dari majalah al-Mawaddah, edisi 2 tahun ke-1 (1428/2007) ]
*) Semoga Allah menerima semua amalan guru kita tercinta, Ustadz Armen Halim Naro, Lc. rahimahullah, yang telah berpulang menghadap Rabb-nya pada tanggal 26 November 2007. Dan semoga jerih payahnya dalam mendakwahkan manhaj yang haq ini menjadi pemberat timbangan amalnya di akhirat nanti. Do’a dari antum semua Insya Allah bermanfaat buat beliau rahimahullah. Amin.
Manusia dalam perjalanannya sebagai hamba Allah harus memiliki dua kekuatan, yaitu kekuatan ilmu dan kekuatan amal. Seperti orang yang sedang berjalan dengan kendaraannya pada kegelapan malam, maka ilmu sebagai lentera dan rambu yang akan menerangi jalan menuju tujuannya. Semakin dalam ilmunya, semakin terang pula jalan yang akan ia lalui. Sebaliknya, semakin jauh ia dari ilmu semakin gelap juga jalan kebenaran baginya. Sedangkan amal adalah motor yang mengerakkannya ke depan.
Semulia-mulia ilmu adalah ilmu mengenal Allah yaitu ilmu tentang tauhid kepada Allah, karena mulia atau tidaknya suatu ilmu sesuai dengan sesuatu yang hendak diketahui. Jika hal yang berkaitan dengan mencuri maka kehinaan ilmu itu sesuai pula dengan pekerjaan itu, begitu juga dengan ilmu dunia maka kemuliaannya sesuai pula dengan kedudukan dunia itu sendiri.
Dalam ilmu dien (agama), kemuliaan fiqih karena dengannya diketahui hukum-hukum syari’at, kemudian ilmu hadits disebabkan dengannya diketahui segala perilaku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan ilmu tauhid dengannya kita dapat mengenal Allah. Adakah yang lebih besar dari mengenal Allah?! Adakah yang lebih besar persaksian dan bukti melainkan bukti dna persaksian tentang Allah?! Allah berfirman yang artinya:
“Katakannlah: ‘Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?’ Katakanlah: ‘Allah’…” (QS. Al-An’am: 19)
Adapun mengenal Allah ialah dalam tiga hal, yaitu: mengenal Allah delam rububiyyah-Nya, mengenal Allah dalam uluhiyyah-Nya, dan mengenal Allah dalam nama dan sifat-Nya. Dan itulah tiga tauhid yang wajib diketahui oleh setiap muslim.
Tauhid Rububiyyah
Tauhid rububiyyah ialah mentauhidkan dan mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya. Maka tidak ada pencipta, pemberi rezeki, pemberi manfaat dan mudharat, pengasih dan penyayang, kecuali Allah. Dialah satu-satunya Pencipta alam, Pengatur alam semesta, Dia yang mengangkat dan menurunkan, Maha Kuasa atas segala sesuatu yang menggantikan siang dan malam. Semua merupakan perbuatan Allah.
“Katakannlah: ‘Wahai Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dna Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau mesukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)’.” (QS. Ali Imran: 26-27)
Ketika seorang hamba meyakini ada yang mencipta atau memberi rezeki selain dari Allah, berarti ia telah berbuat syirik. Perhatikan firman Allah Ta’ala dalam hal ini yang artinya:
“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah…” (QS. Luqman:11)
“Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya?…” (QS. Al-Mulk: 21)
Pengenalan seorang hamba kepada tauhid rububiyyah ini merupakan fithrah yang telah digoreskan ke dalam sanubarinya. Bahkan sampai pada hewan dan binatang, tidak ada yang menyangkalnya.
“Berkata rasul-rasul mereka: ‘Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi?’…” (QS. Ibrahim: 10)
Sampai Fir’aun sekalipun memiliki fithrah ini.
“Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata’…” (QS. Al-Isra’: 102)
Oleh karena itu, keyakinan terhadap tauhid rububiyyah belum memasukkan seseorang ke dalam Islam. Bukan demi hal itu (tauhid rububiyyah, -red) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerangi Abu lahab dan Abu Jahal beserta kaum Quraisy. Bukan hal itu pula yang membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terusir dari Makkah, dilempari batu, luka wajahnya?! Poros pertikaian dan inti perselisihan antara para nabi dengan umatnya adalah dalam tauhid kedua yaitu tauhid uluhiyyah.
Tauhid Uluhiyyah
Tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan hamba kepada Allah dengan niat mendekatkan diri kepada-Nya. Sekiranya Allah yang mencipta, yang memberi, mengapa yang disembah justru sesuatu yang lainnya?! Sekiranya Allah yang memberi manfaat dan mudharat mengapa harus berharap, takut dan cemas kepada selain-Nya?! Sikap dan perbuatan seperti itu benar-benar tidak adil…sebuah kedzaliman yang nyata. Itulah syirik.
Zaid bin Amr bin Nufail, salah seorang penganut ajaran hanif di Makkah, menomentari sembelihan Quraisy: “Ini kambing, Allah yang menciptakan, Dia pula yang menueunkan hujan dan menumbuhkan rumputnya, lalu kalian menyembelihnya untuk selain nama Allah?!!” (HR. Bukhari: 3540)
Itulah cara berpikir orang-orang musyrik, tidak memposisikan Allah sesuai dengan kadar dan keagungan-Nya. Celakalah mereka!! Ke mana akal yang telah dianugerahkan oleh Sang Pencipta?! Di mana fithrah yang suci yang ada dalam dada?!! Mereka berkata:
“Mengapa ia menjadikan Ilah (Dzat yang diibadahi) hanya satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang mengherankan.” (QS Shad: 5)
Mereka merasa aneh ketika para nabi memerintahkan untuk mentauhidkan Allah dalam perbuatan mereka kepada Allah, bahwa tidak ada do’a, puasa, sujud, dan nadzar kecuali kepada Allah. Tidak ada yang ditakuti, diharapkan, dan dicintai kecuali hanya Allah! Tidak ada khusyu’, tawakkal, merendah diri kecuali hanya kepada Allah!
Tauhid Uluhiyyah Inti Dakwah Para Rasul
Tauhid uluhiyyah disebut juga tauhid ibadah, karena mengesakan Allah dalam ibadah seorang hamba. Tauhid uluhiyyah adalah inti dakwah para rasul, semenjak nabi Nuh hingga nabi akhir zaman. Dan ia jalan dan metode dakwah setiap penyeru kebenaran pada setiap tenpat dan zaman. Allah berfirman yang artinya:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah taghut itu’…” (QS. An-Nahl: 36)
Dalam tauhid inilah berkecamuk peperangan antara para nabi dengan kaumnya, sehingga mereka menjadi dua kelompok yang saling bertikai, satu kelompok Allah dan satu kelompok setan. Karena tidak mengertinya manusia tentang hakikat penciptaan. Allah berfirman yang artinya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Berkata Syaikhul Islam: “Ketahuilah bahwa kefakiran seorang hamba kepada Allah agar ia mengibadahi-Nya dan tidak menyekutui-Nya dengan apapun. Tidak ada percontohan dario kebutuhan tersebut sehingga ia dapat dikiaskan. Akan tetapi dapatlah diserupakan dalam beberapa segi dengan kebutuhan seseorang dengan makan dan minum. Sekalipun antara keduanya terdapat perbedaan yang besar. Karena hakikat seorang hamba adalah hati dan ruhnya dan ia tidak akan baik hidupnya kecuali dengan Ilah-nya yaitu Allah yang tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah. Maka, tidak ada ketenangan di dunia kecuali berdzikir kepada-Nya. Ia berletih berpeluh dan akan bertemu dengan-Nya dan tidak ada kebaikan bagi dirinya kecuali harus bertemu dengan-Nya. Sekiranya seorang hamba memperoleh kelezatan dan kebahagiaan selain Allah, niscaya iatidak kekal, karena ia akan berpindah-pindah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, dari individu kepada individu yang lain. Dalam satu waktu ia bisa merasa nikmat dengannya akan tetapi pada waktu yang lain ia tidak akan merasakan nikmatnya, bahkan kadang-kadang menyusahkan dirinya akibat hubungannya dengan sesuatu tersebut atau keberasaan sesuatu tersebut di sisinya. Adapun Ilah-nya maka ia sangat membutuhkan-Nya pada setiap keadaan dan waktu.” (Lihat Majmu’ Fatawa 1/24)
Tauhid Asma’ dan Sifat
Yaitu beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah, sebagaimana yang diterngkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, tanpa takwil, ta’thil (menghilangkan makna atau sifat Allah), takyif (bertanya tentang hakikat dna sifat-Nya dengan kata: “Bagamana”), dna tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Allah berfirman yang artinya:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dialah Ynag Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
Dengan mengetahui nama dan sifat Allah, seorang hamba dapat bermu’amalah dengan Allah dalam ibadahnya. Dan tidak akan sempurnya seseorang dalam mengenal Allah kecuali ia harus menganut madzhab Ahlus Sunnah dalam aqidah terutama tentang asma’ wa shifat, yang mana sebagai tempat yang sering menggelincirkan kelompok-kolompok di luar Ahlus Sunnah.
Bagaimana ia beribdah dengan baik, sekiranya ia berkeyakinan seperti keyakinan kelompok Jahmiyyah yang mengatakan bahwa Allah tidak di luar dan tidak di dalam dan seterusnya, mereka samakan Allah dengan sesuatu yang tidak ada.
Bagaimana ia beribadah dengan baik sekiranya ia mengatakan Allah tidak bersemayam di atas ‘arsy akan tetapi maksudnyamenguasai ‘arsy. Sehingga dengan demikian ia menyatakan bahwa ‘arsy dahulu dikuasai oleh sesuatu lalu baru dikuasai oleh Allah. Kita berlindung dari apa yang mereka sifati!!
Sedangkan Ahlus Sunnah meyakini dalam masalah nama dan sifat Allah yaitu meyakini dna menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya dari nama dan sifat-sifat-Nya dengan tidak mentakwilnya dan mentakyif atau mentamtsilnya.
Berkata Imam Ahmad rahimahullah: “Tidaklah seseorang menyifati Allah kecuali dengan apa yang disifati oleh-Nya untuk diri-Nya atau apa yang disifati Rasul-Nya serta tidak boleh melanggar al-Qur’an dna hadits.” (Lihat Kitab Tauhid 1/98 edisi terjemah penerbit Darul Haq)
Semoga Allah menunjukkan kita ke jalan yang lurus. Amin.
[Disalin dari tulisan Ustadz Armen Halim Naro, Lc. Rahimahullah dari majalah al-Mawaddah, edisi 2 tahun ke-1 (1428/2007) ]
*) Semoga Allah menerima semua amalan guru kita tercinta, Ustadz Armen Halim Naro, Lc. rahimahullah, yang telah berpulang menghadap Rabb-nya pada tanggal 26 November 2007. Dan semoga jerih payahnya dalam mendakwahkan manhaj yang haq ini menjadi pemberat timbangan amalnya di akhirat nanti. Do’a dari antum semua Insya Allah bermanfaat buat beliau rahimahullah. Amin.
Seramnya Pemikiran Ahmadiyah
tidak henti-henti orang yang membenci Islam menebarkan pemikiran yang menyimpang, dengan harapan kita terjauh dari hidayah sunnah yang mulia. Berhati-hatilah kepada mereka, karena hal tersebut dapat menyesatkan kita ke jurang yang penuh kenistaan di neraka.
Inilah diantara pemikiran yang sungguh menyeramkan itu …
Meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Al-Masih yang dijanjikan.
Meyakini bahwa Allah berpuasa dan melaksanakan shalat, tidur dan mendengkur, menulis dan menyetempel, melakukan kesalahan dan berjimak. Mahatinggi Allah setinggi-tingginya dari apa yang mereka yakini.
Keyakinan Ahmadiyah bahwa tuhan mereka adalah Inggris, karena dia berbicara dengannya menggunakan bahasa Inggris.
Berkeyakinan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Mirza Ghulam Ahmad, dan memberikan wahyu dengan diilhamkan sebagaimana Al-Qur’an.
Menghilangkan aqidah/syariat jihad dan memerintahkan untuk mentaati pemerintah Inggris, karena menurut mereka pemerintah Inggris adalah waliyul amri (pemerintah Islam) sebagaimana tuntunan Al-Qur’an.
Seluruh orang Islam menurut mereka kafir sampai mau bergabung dengan Ahmadiyah. Seperti bila ada laki-laki atau perempuan dari golongan Ahmadiyah yang menikah dengan selain pengikut Ahmadiyah, maka dia kafir.
Membolehkan khamer, opium, ganja dan apa saja yang memabukkan.
Mereka meyakini bahwa kenabian tidak ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi terus ada. Allah mengutus rasul sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Dan Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi yang paling utama dari para nabi yang lain.
Mereka mengatakan bahwa tidak ada Al-Qur’an selain apa yang dibawa oleh Mirza Ghulam Ahmad. Dan tidak ada Al-Hadits selain apa yang disampaikan di dalam majelis Mirza Ghulam Ahmad. Serta tidak ada nabi melainkan berada di bawah pengaturan Mirza Ghulam Ahmad.
Meyakini bahwa kitab suci mereka diturunkan (dari langit), bernama Al-Kitab Al-Mubin, bukan Al-Qur’an Al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin 11). Mereka meyakini bahwa Al-Qadian (tempat awal gerakan ini) sama dengan Madinah Al-Munawarah dan Mekkah Al-Mukarramah ; bahkan lebih utama dari kedua tanah suci itu, dan suci tanahnya serta merupakan kiblat mereka dan kesanalah mereka berhaji.
Mereka meyakini bahwa mereka adalah pemeluk agama baru yang indenpenden, dengan syarat yang indenpenden pula, seluruh teman-teman Mirza Ghulam Ahmad sama dengan sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
KESIMPULAN
Ahmadiyah adalah kelompok sesat yang tidak ada hubungannya dengan Islam. Aqidah (keyakinan) mereka berbeda dengan keyakinan agama Islam dalam segala hal. Kaum Muslimin perlu diperingatkan atas aktifitas mereka, setelah para ulama Islam memfatwakan bahwa kelompok ini kuffur.
[Disalin dari Majalah Fatawa Vol. 06. Th. II 1425H/2004M. Disusun dan dialihbahasakan Abu Asiah, Alamat Redaksi Islamic Center Bin Baz, Karanggayam, Sitimulyo, Piyungan, Bantul - Yogyakarta]
_______
Maraji’
[1]. Al-Mausu’ah Al-Muyassarah Fi Al-Adyan Wa Al-Madzahib Wa Al-Ahzab Al-mu’ashirah, oleh DR Mani’ Ibnu Hammad al-Jahani
[2]. Tabshir Al-Adhan bi Ba’di Al-Madzahib wa Al-Adyan, oleh Muhammad As-Sabi’i
Inilah diantara pemikiran yang sungguh menyeramkan itu …
Meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Al-Masih yang dijanjikan.
Meyakini bahwa Allah berpuasa dan melaksanakan shalat, tidur dan mendengkur, menulis dan menyetempel, melakukan kesalahan dan berjimak. Mahatinggi Allah setinggi-tingginya dari apa yang mereka yakini.
Keyakinan Ahmadiyah bahwa tuhan mereka adalah Inggris, karena dia berbicara dengannya menggunakan bahasa Inggris.
Berkeyakinan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Mirza Ghulam Ahmad, dan memberikan wahyu dengan diilhamkan sebagaimana Al-Qur’an.
Menghilangkan aqidah/syariat jihad dan memerintahkan untuk mentaati pemerintah Inggris, karena menurut mereka pemerintah Inggris adalah waliyul amri (pemerintah Islam) sebagaimana tuntunan Al-Qur’an.
Seluruh orang Islam menurut mereka kafir sampai mau bergabung dengan Ahmadiyah. Seperti bila ada laki-laki atau perempuan dari golongan Ahmadiyah yang menikah dengan selain pengikut Ahmadiyah, maka dia kafir.
Membolehkan khamer, opium, ganja dan apa saja yang memabukkan.
Mereka meyakini bahwa kenabian tidak ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi terus ada. Allah mengutus rasul sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Dan Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi yang paling utama dari para nabi yang lain.
Mereka mengatakan bahwa tidak ada Al-Qur’an selain apa yang dibawa oleh Mirza Ghulam Ahmad. Dan tidak ada Al-Hadits selain apa yang disampaikan di dalam majelis Mirza Ghulam Ahmad. Serta tidak ada nabi melainkan berada di bawah pengaturan Mirza Ghulam Ahmad.
Meyakini bahwa kitab suci mereka diturunkan (dari langit), bernama Al-Kitab Al-Mubin, bukan Al-Qur’an Al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin 11). Mereka meyakini bahwa Al-Qadian (tempat awal gerakan ini) sama dengan Madinah Al-Munawarah dan Mekkah Al-Mukarramah ; bahkan lebih utama dari kedua tanah suci itu, dan suci tanahnya serta merupakan kiblat mereka dan kesanalah mereka berhaji.
Mereka meyakini bahwa mereka adalah pemeluk agama baru yang indenpenden, dengan syarat yang indenpenden pula, seluruh teman-teman Mirza Ghulam Ahmad sama dengan sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
KESIMPULAN
Ahmadiyah adalah kelompok sesat yang tidak ada hubungannya dengan Islam. Aqidah (keyakinan) mereka berbeda dengan keyakinan agama Islam dalam segala hal. Kaum Muslimin perlu diperingatkan atas aktifitas mereka, setelah para ulama Islam memfatwakan bahwa kelompok ini kuffur.
[Disalin dari Majalah Fatawa Vol. 06. Th. II 1425H/2004M. Disusun dan dialihbahasakan Abu Asiah, Alamat Redaksi Islamic Center Bin Baz, Karanggayam, Sitimulyo, Piyungan, Bantul - Yogyakarta]
_______
Maraji’
[1]. Al-Mausu’ah Al-Muyassarah Fi Al-Adyan Wa Al-Madzahib Wa Al-Ahzab Al-mu’ashirah, oleh DR Mani’ Ibnu Hammad al-Jahani
[2]. Tabshir Al-Adhan bi Ba’di Al-Madzahib wa Al-Adyan, oleh Muhammad As-Sabi’i
Langganan:
Postingan (Atom)